Perempuan Lebih Tahan Terhadap Rasa Sakit ?


Anggapan perempuan lebih lemah dibandingkan dari laki-laki mungkin tak lagi relevan untuk dibenarkan, apalagi kalau menyangkut daya tahan terhadap rasa sakit.
Walau lebih banyak pekerjaan kasar yang dilakukan laki-laki dan memiliki resiko lebih besar terhadap kemungkinan merasakan sakit, namun fenomena yang sering kita jumpai dalam konteks kesehatan mungkin sedikit bisa menjelaskan hal ini.
Dalam beberapa keadaan yang berhubungan dengan rasa sakit, misalnya rasa sakit yang diakibatkan oleh beberapa gangguan kesehatan serta dalam beberapa tindakan terapi yang melibatkan rasa sakit sebuah survei pernah menemukan kenyataan bahwa perempuan ternyata lebih tahan terhadap rasa sakit dibandingkan dengan kaum pria.
Latar belakangnya sendiri lebih jauh dijelaskan oleh penelitian lain dari kalangan ahli, meski masih ada beberapa pendapat beragam bahkan pro dan kontra terhadap hal ini.

Hormon Estrogen dan Endorfin
Penelitian yang dilakukan untuk membandingkan daya tahan terhadap rasa sakit dari perbandingan antara kaum pria dan wanita ini lebih berbasis ilmiah ketimbang beberapa pendapat yang menyatakan bahwa perempuan mungkin memiliki sifat lebih tabah sehingga kelihatan lebih bisa menahan sakit yang dirasakannya.
Ada lagi beberapa pendapat lain yang mengatakan bahwa perempuan secara fisiologis lebih sering berhadapan dengan rasa sakit di sepanjang proses mekanisme kehidupan mereka, seperti rasa sakit di waktu menstruasi atau dalam proses melahirkan.
Meski dari pandangan ilmu kedokteran secara umum ada beberapa faktor yang turut mempengaruhi hal ini, penelitian yang dilakukan di sebuah institusi di Columbia University, AS, tersebut mencoba menghubungkannya dengan peranan hormonal manusia, dan penelitian ini ternyata banyak didukung banyak ahli saraf lain yang melakukan studi investigasi mereka terhadap daya tahan waniat terhadap rasa sakit yang dinilai lebih tinggi dibandingkan pria ini.
Rasa sakit yang mereka sebutkan dipengaruhi oleh sangat banyak faktor di dalam mekanisme tubuh, salah satunya berkaitan erat terhadap peranan hormon di tubuh manusia, dan salah satu diantaranya adalah hormon estrogen yang dikenal lebih spesifik sebagai hormon wanita.
Hormon yang dihasilkan di indung telur atas perangsangan LH dan FSH (Luteneizing Hormone dan Follicle-Stimulating Hormone) bersama progesteron dalam merangsang pelepasan sel telur ini berperan dalam memproduksi endorfin, suatu zat kimia otak yang termasuk asam amino tubuh dan berperan dalam mengurangi serta mengatasi respons sakit.
Endorfin itu sendiri berperan tak hanya dalam mengatasi rasa sakit alami di dalam tubuh seperti kram di saat menstruasi namun juga dalam menjaga kebugaran emosi dan suasana hati bersama hormon lainnya, serotonin.
Lebih jauh mereka menjelaskan bahwa ketika level estrogen mencapai tingkatan tinggi, semakin besar peningkatan jumlah area di otak yang menyediakan area bagi endorfin untuk melakukan aktifitasnya, dan semakin banyak area ini maka akan semakin banyak pula endorfin yang bisa digunakan tubuh dalam mengatasi rasa sakit.
Proses ini mereka jelaskan kaitannya dengan kejadian saat seorang wanita mengalami proses melahirkan dimana level endorfin secara fisiologis sudah dirancang sedemikian rupa untuk mengurangi rasa sakit yang dihadapi oleh mereka.
Hormon ini juga membuat para wanita lebih tanggap dan lebih dini mengenali rasa sakitnya dibandingkan dengan hormon pria yang dinilai kurang peka terhadap rasa sakit, namun sekaligus juga tak punya peranan banyak terhadap produksi endorfin dalam mengatasi rasa sakit tadi.
Mengenai kadar estrogen yang berkurang saat seorang wanita memasuki tahapan menopause sendiri, belum bisa dijelaskan lebih lanjut, namun mereka menyimpulkan bahwa hormon estrogen dan endorfin, yang juga banyak diproduksi ketika berhubungan intim dan berolahraga secara teratur ini memegang peranan dibalik kekuatan para wanita itu, paling tidak selama periode tertentu dalam hidup mereka.

Pendapat Pro dan Kontra
Meski tak semuanya sependapat secara detail yang sama, agaknya para ahli tidak memiliki prinsip berbeda mengenai endorfin yang memang erat sekali kaitannya dengan penghilangan rasa sakit di dalam tubuh.
Begitupun, sebagaimana penelitian ahli lainnya, masih terdapat pro dan kontra berkaitan dengan pendapat tadi. Salah satunya adalah publikasi yang datang dari Ontario, Kanada, dalam sebuah jurnal National Academy of Science disana. Dalam publikasi ini, pendapat yang disampaikan bertolak-belakang dengan teori sebelumnya, bahwa kaum pria ternyata lebih baik dalam mentoleransi rasa sakit mereka.
Penelitian yang dititik beratkan pada penyampaian pesan kimia tubuh terhadap rasa sakit ini menemukan secara tak sengaja bahwa sebuah jenis protein yang dikenal dengan nama GIRK2 ternyata berperan banyak dalam sensasi sakit serta sensitifitas obat bagi para pria, sementara tidak begitu berarti terhadap wanita.
Para peneliti ini awalnya hanya menginvestigasi penelitian mereka pada efek morfin terhadap rasa sakit, tanpa adanya titikberat pada perbedaan gender.
Lebih lanjut, mereka menyebutkan bahwa protein ini bekerja dalam memberikan ambang rangsang yang lebih tinggi pada pria ketimbang wanita, dengan mekanisme yang cukup jelas pada beberapa neurotransmitter terhadap sinyal rangsangan di daerah persarafan sehingga tanpa penggunaan analgetik/painkillers sekali pun, pria akan memiliki daya tahan lebih tinggi dibanding wanita.
Namun begitu, pada kesimpulannya para ahli ini menyebutkan juga bahwa masih menjadi suatu kemungkinan bahwa ada mekanisme-mekanisme tertentu yang belum ditemukan secara jelas dalam menentukan perbedaan daya tahan gender ini terhadap rasa sakit.
Dari pro dan kontra yang masih terus berlangsung terhadap bermacam-macam teori dan mekanisme rasa sakit ini, masih terlalu dini rasanya untuk membenarkan kesimpulan bahwa wanita lebih tahan terhadap sakit dibandingkan pria, apalagi dengan sisi berbeda dari sasaran tiap-tiap studi yang ada. Penelitian yang lebih spesifik tentu masih perlu dilakukan selanjutnya untuk mendapatkan suatu hasil pasti mengenai hal yang menarik ini.

Sumber DISINI

~ oleh ishma pada 10 Maret 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: