Kejujuran, Roh Utama Pendidikan


Artikel ini saya temukan pada saat baca cerita2 kocag di Blog INI tau-tau kesasar ke blog INI dan sampailah kepada sumber INI

Artikel rasanya ini cocok untuk dibaca, dan dijadikan bahan pertimbangan.:mrgreen: Soalnya saya lagi kepengennnn banget buat kuliah di Luar Negeri ini, emang udah niat sih buat hijrah🙂

Daripada basa-basi terus nih copy-an nya

Bagi Anda yang mempunyai kebiasaan mencontek dan ingin belajar ke Jerman, diingatkan untuk menghentikan kebiasaan buruk itu. Alasannya, mencontek bukan saja menipu diri sendiri, tetapi juga merusak kejujuran yang merupakan roh utama pendidikan.

Tradisi untuk mempertahankan kejujuran dalam dunia pendidikan sudah ditanamkan sejak adanya pendidikan itu sendiri. Maka, dalam pendidikan di Jerman, amat sulit ditemukan tesis, disertasi, atau skripsi yang merupakan plagiasi atau manipulasi, atau tindakan sejenisnya, atau hal lain yang tercakup dalam perilaku ketidakjujuran akademis. Itu semua disebabkan oleh upaya menjunjung tinggi kejujuran yang terkait erat dengan nilai kebenaran.

”Saya bersyukur, di sini ada peraturan yang amat keras. Mencontek, jika dianggap amat parah, bukan hanya tidak lulus, tetapi juga dikeluarkan. Semua aturan terkait kejujuran itu sudah tercantum dalam Studienordnung. Cari saja paragraf soal mencontek, akan keluar berbagai aturannya. Semua ketentuan itu sudah tercantum di sana, antara lain aturan studi dan aturan ujian. Semua sudah jelas,” kata Yohanes Bosco Djawa OCarm, pastor asal Bajawa-Flores yang menjadi mahasiswa Filsafat Teologi Sankt George di Frankfurt.

Adanya ketentuan dan dilaksanakan secara ketat membuktikan bahwa Jerman masih menghargai kejujuran, bahkan menempatkannya sebagai yang utama atau roh utama pendidikan. Bahkan, untuk membuat skripsi, mahasiswa tidak bisa begitu saja melakukan copy and paste. Mahasiswa yang melakukan itu jangan harap bisa lolos begitu saja.

Dipl-Ing Rinaldi Sobirin dari Fakultas Teknik Elektro, TU Darmstadt, bercerita, beberapa waktu lalu ada teman dosen, orang Jerman, menemukan sebuah tesis yang sedang diajukan dan di dalamnya ada bagian yang membuatnya ragu. Dosen tersebut memang harus membaca semua dulu, sebelum memberikan kata pengantar.

”Dia bilang, untuk bagian ini, kok, dia merasa pernah membaca. Lalu dicarilah di internet. Ternyata benar, bagian skripsi itu mencontek dari RWTH Aachen. Teman saya tahu, ini bukan bahasa mahasiswa, ini bahasa profesor. Tetapi, karena ini praktikum suatu eksperimen dan bukan ujian, dia minta untuk perbaikan, dan diingatkan untuk tidak mengulangi lagi. Kalau tidak, si mahasiswa bisa dikeluarkan,” tuturnya.

”Begitulah yang terjadi. Jerman ini maunya menghasilkan insinyur dan intelektual yang mumpuni, bukan hanya ahli ngecap,” kata Rinaldi lagi.

Maka, calon mahasiswa selalu diingatkan, datang ke universitas tidak otomatis lulus. Belajar di Jerman memerlukan perjuangan yang amat keras untuk bisa lulus. Mereka yang mendapat informasi keliru dari lembaga yang kurang paham sering kaget melihat kenyataan di Jerman. ”Seolah belajar di Jerman itu gampang. Hidup di Jerman pun lempeng saja. Mereka tidak tahu hidup dan belajar di sini penuh tangisan dan keringat,” kata Rinaldi.

Tugas semua

Terkait masalah kejujuran dalam dunia pendidikan, hal itu sudah selayaknya dipelihara dan diutamakan dalam dunia pendidikan. Sebab, bagaimana pendidikan akan memberikan nilai-nilai utamanya apabila kejujuran sudah hilang dari institusi ini.

”Maka benar kalau dikatakan kejujuran adalah roh pendidikan. Kami di sini sejak kecil memang dilatih untuk jujur, apa adanya, tidak memanipulasi hasil. Meski demikian, tidak berarti praktik ketidakjujuran sudah hilang. Di sekolah tentu saja masih ada yang tidak jujur. Maka, peraturan itu menjadi penting dan harus ditegakkan,” kata Christian Dick, mahasiswa Teknik Elektro semester IV di TU Darmstadt.

Selain menjadi roh pendidikan, kejujuran juga mendorong persaingan yang sehat dalam menciptakan sesuatu. Kalau tidak, bagaimana mungkin bangsa Jerman menghargai berbagai temuan. ”Maka, dalam skripsi atau karya tulis pun semua harus jelas. Berbagai kutipan yang dilakukan harus ditunjukkan sumbernya. Dengan cara ini, kami diajak untuk menghindari plagiasi, menghindari penipuan,” kata Dick seraya bertanya, ”Kalau pendidikan sudah dicurangi, hasil apa yang akan diperoleh?”

Penghasilan

Kejujuran juga terkait dengan kehidupan dan penghasilan. Seseorang yang hanya bekerja sebagai dosen memang bisa hidup ”lebih baik” daripada seorang mahasiswa. Tetapi, ia jelas tidak mungkin hidup dengan gaya seperti seorang menteri atau pejabat negara. Artinya, orang Jerman sudah terbiasa hidup apa adanya, jauh dari rasa tamak, jauh dari keinginan untuk berlaku tidak jujur dengan memanfaatkan jabatan atau profesi. Semua ada standarnya.

”Benar, di sini semua ada standarnya. Gaji pembantu dosen tidak akan mungkin lebih tinggi dari profesor. Sebagai pembantu dosen dengan status bujangan, mereka akan mendapat gaji bersih antara 1.600 euro hingga 1.700 euro,” kata Rinaldi.

Disebut gaji bersih karena sudah dipotong pajak, asuransi, pensiun, dan sebagainya. Dengan gaji bersih 1.600 euro atau 1.700 euro, berarti gaji kotor pembantu dosen itu sekitar 3.200 euro atau 3.400 euro. Jadi, potongan pajak hampir mencapai 50 persen.

”Kalau sudah berkeluarga, perhitungan gaji juga didasarkan pada jumlah anak. Yang jelas, pembantu dosen yang sudah berkeluarga minimal akan mendapat gaji 2.100 euro dan paling besar sekitar 3.000 euro. Jumlah itu lebih besar karena ada subsidi untuk anak,” kata Rinaldi menambahkan.

Faktor gaji yang tinggi bagi pegawainya membuat Pemerintah Jerman harus pandai-pandai menyiasati persaingan dengan negara Eropa Timur, apalagi negeri di kawasan itu juga mumpuni di bidang teknologi. Bisa-bisa perusahaan atau tenaga ahli diambil dari Eropa Timur yang masih bisa digaji lebih rendah. Jika itu yang terjadi, ini akan merupakan bencana bagi masyarakat Jerman sendiri.

Lalu, bagaimana jika seseorang yang telah bekerja di Jerman kemudian kembali ke negeri asalnya? Semua juga sudah diatur. Bahkan, uang pensiun yang sudah dikumpulkan setiap bulan bisa diminta kembali apabila yang bersangkutan akan pulang selamanya ke negeri asalnya.

”Uang pensiun bisa diambil. Memang, harus menunggu persetujuan dua atau tiga tahun. Tetapi, biasanya selalu dapat diambil kembali,” ujar Rinaldi.

Mandiri

Tentang pendidikan di Jerman, Rinaldi juga mengakui, Jerman memberikan kualitas yang istimewa. Hal yang tidak terbantahkan adalah tersedianya fasilitas untuk pendidikan. Memang, fasilitas bukan segala-galanya, tetapi ini memacu motivasi studi, apalagi fasilitas untuk praktik.

”Bagi saya pribadi, belajar di Jerman menempa kita untuk mandiri. Di Jerman, umumnya orang dituntut untuk bisa mandiri. Kalau ia bisa melewati masa itu, ia akan berhasil dan mumpuni. Dulu, dari Rektor Aachen, membuat sistem yang memaksa mahasiswa harus mandiri. Jika tidak bisa mandiri, dia akan out. Jadi yang lulus benar-benar orang yang siap survive di dunia kerja,” tutur Rinaldi yang lulusan SMA Negeri II Surabaya ini.

Namun, keistimewaan Jerman dalam pendidikan bukan dibangun dalam satu dua tahun. Jerman juga memiliki latar belakang dan sejarah pendidikan yang lama, terutama untuk bidang teknik. Maka, hingga kini, Jerman masih menjadi kiblat bagi siapa pun yang ingin belajar teknik. ”Hal ini juga dikuatkan oleh kebiasaan orang Jerman yang suka bermain perkakas, suka utak-utik alat sejak berabad-abad lalu. Maka, tak heran jika teknologi dari Jerman masih sulit ditandingi,” kata Rinaldi.

Hal itu juga diakui Charles Kusuma Wijaya, mahasiswa Teknik Informatika TU Darmstadt.

Dia mencontohkan, produk Jerman yang sudah mendunia dan murah adalah musik dalam format MP3 yang diciptakan Profesor Dieter Seitzer dari Erlangen, Universitas Nueremberg, dan dikembangkan oleh Karl Heinz Brandenbrug. ”MP3 ini benar-benar made in Germany yang murah dan mendunia. Siapa sekarang yang tidak mengenal MP3? Hampir semua orang mengenal MP3,” kata Charles, lulusan SMA Marsudirini, Matraman, Jakarta, ini.

Charles mengakui, ia belajar ke Jerman karena tertarik kualitas yang ditawarkan.

Hal serupa dialami Philemon Ivan Derwin (mahasiswa Teknik Industri), Dhanang Kusumaningtyas (mahasiswa Teknik Elektro), Putri Kusumaningtyas (mahasiswi Teknik Informatika), dan Agnes Nirmalasari (mahasiswi Sastra Jerman).

”Belajar di Jeman, selain kualitasnya bagus, juga murah dan tidak neko-neko. Semua pengeluaran uang jelas maksudnya. Mungkin kalau dihitung-hitung, lebih murah di Jerman dibanding di Jakarta. Hanya saja belajar di sini tidak bisa bersantai-santai. Selain itu, belajar di Jerman akan membuka wawasan kita karena bergaul dengan manusia dari berbagai penjuru dunia. Istilah kerennya, menjadi manusia internasional,” kata Agnes.

Hanya untuk TK

Ihwal keharusan membayar uang sekolah, menurut Christian Dick yang asli Jerman, hal itu lebih didasarkan pada undang-undang negara bagian masing-masing. Memang, untuk pendidikan dasar hingga perguruan tinggi, semuanya gratis. Artinya, pemerintah berkewajiban menyediakan sarana pendidikan, dan semua orang diberi kesempatan yang sama untuk mengenyam pendidikan.

Maka, pada jenjang itu, masyarakat dibebaskan dari kewajiban membayar uang pendidikan. Apalagi, Pemerintah Jerman memberlakukan kewajiban untuk sekolah bagi semua warganya. Bahkan, kalau tidak mau sekolah, polisi bisa memaksa orangtua dan anak-anaknya untuk sekolah.

”Tetapi untuk taman kanak-kanak berbeda. Selain diberi aneka pengetahuan yang terkait dengan kebutuhan anak-anak, mereka juga disediakan makanan yang sehat dan fasilitas untuk istirahat. Dengan demikian, wajar kalau anak-anak taman kanak-kanak justru diharuskan membayar. Pembayaran itu, sekali lagi, bukan untuk pendidikannya, tetapi karena harus menyediakan sarana tidur, memberikan makan, dan sebagainya,” kata Dick.

Terkait dengan kualitas pendidikan yang diberikan oleh semua lembaga pendidikan di Jerman, Dick tidak menyangsikan.

”Ya, itu semua sebenarnya hasil upaya dan usaha yang lama. Maka, usia pendidikan di Jerman sendiri umumnya cukup tua. Fakultas Elektro di TU Darmstadt ini saja sudah berusia 125 tahun. Sudah cukup tua,” katanya menambahkan.

~ oleh ishma pada 2 Maret 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: